





Sabtu (18/7/2009) pukul 6:30 pagi. Tidak seperti biasa, banyak orang berkumpul di kantor Serambi Ilmu Semesta. Mereka adalah karyawan beserta keluarga yang hendak berwisata ke Bogor. Sementara itu, dua bus blue star—masing-masing berkapasitas 59 penumpang—terparkir di depan kantor penerbit dan toko buku Serambi.
Mendekati pukul tujuh tepat—waktu yang ditentukan panitia sebagai tenggat untuk berangkat—suasana halaman parkir kantor yang terletak di Jalan Kemang Timur Raya No. 16, Jakarta Selatan, itu semakin ramai. Panitia tampak sibuk mempersiapkan segala keperluan acara, sementara beberapa karyawan lain—yang bukan panitia—lebih dulu berada di dalam bus.
Anwar Sadat, selaku ketua panitia, menempelkan ponsel esia-nya ke telinga. Dia menelepon Mas Dul, Sales & Distribution Manager, yang ternyata masih berada di daerah Tanjung Barat. Tidak lama kemudian, Mas Dul tiba di kantor bersama istri dan putri-putranya. Kedatangannya disambut oleh sorakan “huuuu” dari Bang Lukman.
Akhirnya, rombongan berangkat terlambat sekitar setengah jam dari rencana semula. Lokasi yang dituju adalah Taman Wisata Matahari, Bogor. Sebelum bus melaju, kami berdoa untuk kelancaran perjalanan dan acara.
Sepanjang perjalanan menuju lokasi, kami yang berada di bus satu dihibur oleh suara emas sepuhan milik Aryo, Lukman, Anwar, dan Predi yang menyanyikan lagu-lagu Ungu, Peterpan, serta grup musik populer lainnya. Terbukti, suara mereka berhasil membuat kemacetan di daerah Megamendung, Bogor, terasa semakin lama dan menggerahkan meskipun kami berada dalam bus AC.
Karena bus kami termasuk bus besar, jadi kami harus berjalan kaki melewati gang pemukiman penduduk untuk mencapai tempat parkir mobil safari milik taman wisata. Mobil safari itu berbentuk angsa, gorila, dan binatang lucu lainnya. Kami diantar ke lokasi yang disebut “panggung badut” oleh para supir mobil safari itu.
Di panggung yang didominasi warna kuning itu, kami disambut oleh Santo dan Sari yang kebagian tugas menjadi pemandu acara. Mereka berduet sangat kompak layaknya Indra Bekti dan Indi Barens. Acara dimulai dengan sambutan dari ketua panitia. Setelah itu, Direktur Serambi Ilmu Semesta, Pak Husni, meluncurkan penggunaan logo baru Serambi: yang awalnya tipis tapi manis menjadi lebih kekar dan berwibawa.
Setelah itu, tibalah acara yang ditunggu-tunggu: games dan pembagian doorprize. Seluruh hadiah yang disediakan panitia ludes dalam waktu singkat melalui lomba joget dan latah gerak. Hampir semua peserta yang lajang, yang sudah berkeluarga—bahkan anak-anak mereka ikut serta. Saat itu kami larut dalam gelak tawa.
Puas dengan bagi-bagi hadiah, kami menyantap makan siang sebelum menjajal wahana yang ada di Taman Wisata Matahari. Dari pengamatan sekilas, tampak jelas bahwa taman wisata ini memanfaatkan aliran Sungai Ciliwung untuk beberapa wahana permainannya. Dari empat wahana yang saya coba, saya paling terkesan dengan bumper boat. Tiga kali diputar-putar di atas perahu karet dengan tempat duduk plastik itu rasanya setara dengan menyunting naskah terjemahan yang buruk. ***
Moh. Sidik Nugraha
Nb: terima kasih untuk Anwar, Irul, Ebi, Ria, Ujang, Jupri, Santo, Sari, dan teman-teman panitia lainnya.
